Minggu, 30 Desember 2012

IMPERIUM UMAYYAH DI SPANYOL


IMPERIUM UMAYYAH DI SPANYOL
(Masuknya Islam ke Barat : Awal Berdiri dan Perkembangannya)
(oleh A’an Minan Nur Rohman)

A.     PENDAHULUAN
Kehadiran orang-orang Islam di Spanyol merupakan awal  munculnya Islam di benua eropa karena Spanyol merupakan gerbang bagi benua tersebut sebagaimana yang telah diinformasikan dalam buku-buku sejarah, ekaspansi Islam ke wilayah barat terjadi pada masa kekhilafahan Bani Umayyah dengan khalifahnya Al-Walid bin Abdul Malik[1]
Pada saat itu Musa bin Nusair, Tharif ibnu Malik, dan Thariq Bin Ziyad sebagai komandan lapangan, di mana ketiganya dianggap sebagai tokoh pelaku utama atas masuknya Islam di bumi Spanyol. Mereka berhasil menguasai wilayah Afrika dan kemudian menyebrang ke benua eropa. Setelah masuknya Islam di Spanyol maka banyaklah kemajuan-kemajuan yang diperoleh dan hal ini dapat dilihat dengan banyaknya tokoh-tokoh dan para ilmuwan yang menucul dari sana. Namun setelah berabad-abad lamanya Islam menguasai Spanyol, mulai mengalami kemunduran dan kehancuran bahkan kemudian Islam hilang dari bumi tersebut.
B.     KERANGKA TEORI
Makalah ini mencoba menelaah latar belakang masuknya Islam ke Spanyol, Perkembangan Kekhilafahan di Spanyol,analisis perkembangan peradaban Islam di Spanyol dan kemajuan-kemajuannya serta fase kemunduran Islam di Spanyol
C.     PEMBAHASAN
1.      Sejarah Masuknya Islam di Spanyol
Sebelum kedatangan Umat Islam , kawasan yang masuk dalam daerah Iberia[2] tersebut di bawah kekuasaan Kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang  KristenVisigoth dengan rajanya yang bernama Roderick[3]. Awal kedatangan Islam di Spanyol berawal saat datangnya Julian seorang Gubernur Wilayah Ceuta memohon kepada Musa ibnu Nusair yang menjabat Guberbur dari kekhalifahan Umayyah di Wilayah Afrika barat laut untuk memerdekakan negerinya yang dilanda kekacauan hebat.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Khalifah Walid bin Malik (705 M-715 M) kemudian diutuslah tiga panglima perang yaitu Tharif ibnu Malik, Thariq bin Ziyad dan Musa Ibnu Nusair sendiri untuk menaklukan Spanyol.
a.      Tharif bin Malik
Tharif bin Malik dapat dikatakan sebagai perintis dan penyelidik, pada kamis, 4 Ramadan 91 H atau 2 April 710 M ia menyebrangi selat yang berada di antara Maroko dan Benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, seratus diantaranya adalah tentara berkuda, meraka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penaklukan tersebut Tharif tidak mendapatkan perlawanan yang berarti, iapun mendapatkan kemenangan dan kembali ke Afrika Barat[4]
b.      Thariq bin Ziyad
Thariq bin Ziyad lebih dikenal sebagai Penakluk Spanyol. Setelah Tharif berhasil  memperoleh kemenangan pertama maka pada senin 3 Mei 711 M diutuslah Thariq bin Ziyad[5] dengan membawa 7000 pasukan yang menyebrangi selat antara Afrika dan benua Eropa lalu singgah dan mengusasai gunung yang dikenal dengan Giblaltar (Jabal Thariq), di daerah ini kemudian ia membangun pertahanan militer yang kuat untuk persiapan mengahadapi pasukan Roderick.
Mendengar pasukan Thariq telah mendarat, Raja Roderick mempersiapkan 100.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ia memimpin langsung pasukannya itu, sedangkan Musa bin Nusair kemudian mengirim bantuan tentara sebanyak 5000 tentara untuk membantu Thariq bin Ziyad sehingga total pasukan Thariq menjadi 12.000 orang.
Sebelum pasukan umat Islam bertemu dengan Pasukan Roderick Thariq bin Ziyad memberikan Brefing untuk membakar semangat para tentara Islam dan akhirnya pada tanggal 19 Juli 711 M, kedua pasukan bertemu dan bertempur di muara sungai Barbate, dengan izin Allah SWT pasukan Thariq yang kalah banyak dibandingkan pasukan Roderick tetapi dapat memperoleh kemenangan dan Roderickpun akhirnya tewas[6].
c.       Musa Ibnu Nusair
Setahun setelah keberhasilan mengalahkan Roderick Musa bin Nusair bertolak ke Spanyol membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq, dalam perjalanan tersebut ia berhasil menaklukan Merida, Sionia dan Sevilla. Sementara pasukan Thariq membagi pasukannya untuk menaklukkan Cordova, Granada Malaga, sedangkan pasukannya sendiri mekanklukan Toledo. Dalam kurun waktu 2 tahun semua wilayah tersebut dapat dikuasai oleh kaum muslimin dan keduanya bertemu di Toledo pada tahun 713.[7]
Kemenangan yang dicapai oleh umat Islam ini tampak begitu mudah didapat, hal ini tidak bisa dipisahkan dari adanya factor eksternal dan factor internal. Yang dimaksud dengan Faktor Eksternal adalah kondisi yang terdapat di Spanyol sendiri yang pada saat itu kondisi social, politik dan ekonomi dalam keadaan  yang menyedihkan, sedangkan factor internalnya suatu kondisi yang terdapat pada kaum muslimin di mana parah tokohnya sangat kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Disamping itu yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan oleh para tentaranya yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong.  
d.      Abdur Rahaman Ad-Dakhil
Pusat kekuasaan Bani Umayyah di Damaskus di bawah otoritas Bani Abbasiyah berakhir pada tahun 750 M. Pembantaian besar-besaran terhadap keluarga dan keturunan Umayyah terjadi, hanya satu orang yang berhasil lolos yaitu Abdurrahman yang mendapatkan gelar “Ad-Dakhil”.
Setelah berhasil melarikan diri ia pergi ke Mesir dengan menyamar sebagai seorang pedagang ia lalu melewati berbagai bukit batu dan gunung yang tandus, akhirnya pada tahun 756 ia berhasil memasuki wilayah Spanyol.
2.      Perkembangan Islam di Spanyol
Perkembangan Islam di Spanyol yang berlangsung lebih dari tujuh setengah Abad (711 M-1492 M) Islam memainkan peranan yang sangat besar. Sejarah panjang yang dilalui Umat Islam di Spanyol ini dapat dibagi menjadi enam periode, di mana tiap periode mempunyai corak pemerintahan dan dinamika masyarakat tersendiri.[8]
Perkembangan tersebut dapat kami ketengahkan sebagaimana berikut : 
a.       Periode Pertama (711-755 M)
Pada peride ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para Wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari  dalam antara lain berupa perselihian di antara elit penguasa, terutama perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu juga terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan Gubernur di Afrika yang berpusat di Kairawan, masing-masing mengaku bahwa merekalah yang berhak menguasai daerah Spanyol[9].
b.      Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar Amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar “ad-Dakhil”[10] , penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abd al-Rahman ad-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd Rahman al-Ausath, Muhammad ibn Abd al-Rahman, Munzir ibn Muhammad dan Abdullah bin Muhammad
Pada periode ini Umat Islam mulai memperoleh kemajuan-kemajuan baik dalam bidang politik maupun alam bidang peradaban. Abdur Rahman ad-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar. Hisyam dikenal berjasa dalam penegakan hukum Islam, dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam kemiliteran, dialah yang memprakasai tentara bayaran di Spanyol.[11]
c.       Periode ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd al-Rahman III yang bergelar “An-Nasir’ sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan muluk al-Thawaif. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan khalifah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita bahwa Al-muktadir khalifah Abbasiyah meninggal dunia karena dibunuh. Ia berpendapat bahwa saat ini(929 M) adalah waktu yang tepat untuk memakai gelar Khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 Tahun lebih. Adapun para khalifah besar yang memerintah pada periode ini adalah Abdur Rahman An-Nasir(912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abdur Rahman mendirikan Universitas Cordova dengan perpustakaan yang memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II masyakarat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran serta pembangunan kota berlangsung.
Awal dari kehancuran khilafah bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik takhta dalam usia 11 tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan Ibn abi ’Amir (seorang ambisius) sebagai pemegang kekuasaan mutlak.
d.      Periode keempat (1013-1086 M)
Periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh Negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau al-Muluk Thawaif yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, dan Toledo. Periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Melihat kekacuan dan kelemahan yang menimpa keadaan politik Islam itu, maka orang-orang kristen mulai mengambil inisiatif penyerangan[12]
e.       Periode Kelima (1086-1248)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun terpecah dalam beberapa Negara terdapat satu kekuatan yang dominan yaitu kekuasaan daulah Murabitun (860-1143 M) dan daulah Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan politik yang didirikan oleh Yusuf bin Tasyfin di Afrika Utara[13]. Pada tahun 1062 ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakisy, ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-ngerinya dari serangan orang-orang Kristen
Sedangkan Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibnu Tumart, dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abdul Mun’im. Untuk jangka bebarapa dekade dinasti ini mengalami banyak kemajuan bahkan kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur, akan tetapi tak lama setelah itu dinasti ini juga mengalami keambrukan sehingga tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa dan pengusa-pengusa Muwahidun memilih untuk meninggalkan Spanyol. .  
f.        Periode keenam (1248-1492)
Pada periode ini disebut juga dengan kerajaan Granada di Bawah dinasti Bani Ahmar yang merupakan pertahanan terakhir muslim Spanyol.[14] Kekuasaan Islam terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan antara Abu Abdullah Muhammad dengan ayahnya sendiri. Dia kemudian memberontak yang mengakibatkan ayahnya meninggal dunia dan digantikan oleh Muhammad bin Sa’ad, Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdenand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat menjatuhkan penguasa yang sah dan Abu Abdullahpun naik tahta. Namun pada akhirnya penguasa kristen tersbut juga menjatuhkan Abu Abdullah dari kepemimpinan dan menyerahkan kekuasaan pada Ferdenand dan Isabella dengan cara yang sungguh ironis. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan pada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol.[15]
3.      Kemajuan Peradaban Islam di Spanyol
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, Umat Islam telah mencapai kejayaanya di sana. Banyak prestasi yang meraka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks.
a.      Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Seni
1)      Filsafat
Islam Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat briilian dalam bentangan sejarah. Ia berperan sebagai jembatan penyebrangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad 12. Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M) karya-karya ilmiah filosofis dimpor dari Tumur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan Universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat ilmu pengatahuan di dunia Islam.[16] Adapun tokoh filsafat yang terkenal pada masa ini adalah :
a)      Ibnu Hazm dengan Karyanya “al-Milal wa al-Nihal”
b)      Abu Bakar Muhammad bin al-Syigh yang dikenal dengan Ibnu Bajjah (wafat karena keracunan 1138)
c)      Abu Bakar Ibnu Thufael(1185) dengan bukunya ”Hay bin Yaqdzan”.
d)      Ibnu Rusd[17] (wafat 1198 M) yang dikenal dengan sebutan Averous dengan karyanya ”Bidayah Al-mujtahid”, ”Tahafut al-tahafut”.[18]
2)      Geografi dan Sains
Ilmuwan di bidang geografi lahirlah nama Ibnu Jubair (1145-1228) yang menulis tentang negri-negri Mediterania dan Sicilia, Ibnnu Batutah (1304-1377) Khalaf Al-Zahrawi seorang ahli bedah di bidang kedokteran dan ilmu fa’al, Ibnu Khatimah  ahlli penyakit malaria. Itulah  sebagian tokoh yang terjenal dan ilmu Geografi dan sains
3)      Fiqih
Dalam bidang Fiqih Spanyol terkenal sebagai penganut Madzhab Maliki. Yang memperkenalkan di sana adalah Ziyad ibnu Abd Al-Rahman. Ahli fiqih yang terkemuka diantaranya adalah Abu Bakr ibnu al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id al-Baluthi, dan ibnu Hazm
4)      Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan seni suara Spanyol mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi’ yang dijuluki Zaryab , ia dikenal juga penggubah lagu.
5)      Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Bahkan penduduk asli Spanyol menomorduakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak ahli dan Mahir dalam bhaasa Arab. Mereka itu antara lain : ibn Sayyidah, Ibn Malik pengarang Alfiyah, Ibnu Khuruf, aib Al-Hajj, Au Al-Isybili, Abu Hasan ibn Usfur.
Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karyakarya sastra banyak bermunculan, seperti Al-‘Iqd al-farid karya Ibn Abd Rabbih, Kitab al-Qolaid karya al-Fath ibnu Khaqn.
b.      Arsitektur
Dalam bidang kesenian abdul Rahman ad-Dakhil merintis membangun kota Cordova lengkap dengan istana, taman, dan masjid. System pengairan diatur sehingga kota mampu mensuplai air bersih untuk keperluan minum. Kota diperlengkapi jalan-jalan dengan lampu penerangannya semetentara pada waktu yang sama Erpa masih tenggelam dalam kegelapan dan jalan yang becek. Masjid Cordova yang dibangun tahun 786 oleh Abdur Rahman Ad-dakhil mempunyai pola dasar Masjid Bani Umayyah di Damaskus yang kemudian diperbesar oleh abdur rahman II dan al-hakam II sehingga menjadi megah dan indah.[19]
Di Granada dibangun istana al-Hambra yang indah dan megah yang menjadi pusat ketinggian arsitektur Spanyol Islam, kemudian pada masa Abd rahman III dibangun pula istana yang disebut Al-Zahra yang menurut para pakar arkeologi istana ini merupakan perpaduan seni gaya bangunan Byzantium dan Islam, dilengkapi dengan Kolam air mauncur dan patung manusia yang indah. [20]
c.       Kemajuan dalam pemerintahan
Kemajuan penataan pemerintahan pada Bani Umayyah terlihat dalam berabgai aspek, diantaranya
Pertama, Bidang Militer. Untuk menjaga keamanan serta pertahanan kedaulatannya, Amir membangun kekuatan militer di Spanyol yang terdiri adri Tentara tetap, tentara regular, Tentara Irreguler dan tentara sukarela
Kedua, Administrasi Sipil. Untuk melaksanakan pemerintahan dibentuklah lembaga yang mempunyai tugas-tugas tertentu sesuai dengan keahliannya, berapa lembaga yang ada pada saat itu antara lain : al-hajib (pejabat yang paling berpengaruh di istana), al-Wazir (menteri), Al-Katib (Sekretaris Negara), Khazin al-mal (petugas Pajak), Al-Qodhi (Hakim), Shohibul Madhzalim (KPK)
Ketiga , Ekonomi. Pada masa Abdurrahman II tanah-tanah gersang diubah menjadi lahan produktif dengan menggunakan alat-alat baru juga dengan pupuk yang mempersupbur tanah, di bidang perdagangan telah diterapkan bea dan cukai yang bisa memberikan devisa yang tinggi bagi kerajaan.[21]
d.      Faktor-Faktor Pendukung Kemajuan
1)      Kemajuan Spanyol Islam sangat ditentukan oleh adanya pengusa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan Umat Islam
2)      Toleransi beragama antara penganut Islam, Kristen dan Yahudi, sehingga mereka berpartisipasi mewujudkan Arab Islam di Spanyol
3)      Banyaknya sarjana yang mengadakan perjalanan dari ujung barat ke walaiayah Islam di ujung timur sambil membawa buku-buku dan gagasan-gagasan, hal ini menunjukkan meskipun umat Islam terpecah belah dalam kesatuan politik, tetapi terdapat kesatuan Budaya
4)      Perpecahan politik pada muluk al-Thawaif mendorong kerajaan-kerajaan kecil mendirikan pusat-pusat peradaban baru menyaingi Cordova.[22]
4.      Masa Kemunduran Islam di Spanyol
Penyebab kemunduran Islam di Spanyol antara lain :
a.       Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna, mereka sudah puas dengan hanya menagih upeti  dari kerajaan-kerajaan Kristen takulkannya dengan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka , asal tidak ada perlawanan senjata, dengan demikian kahdiran arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol kristen, hal ini yang menyebabkan kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari konflik antara Islam dan Kristen
b.      Tidak adanya ideologi pemersatu
Adanya perlakuan yang tidak sama antara penduduk arab Spanyol dengan pribumi (muwalladun) yang membuat mereka berusaha menggerogoti sosio-ekonomi negeri tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideologi pemersatu yang dapat memberikan makna persatuan da kesatuan.[23]
c.       Kesulitan Ekonomi
Di paruh kedua masa Islam di Spanyol para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius,sehingga lalai membina perekonomian negara yang mengakibatkan krisis ekonomi
d.      Tidak jelasnya peralihan kekuasaan
Hal ini yang menyebabkan perebutan kekuasan di antara ahli waris sehingga memunculkan Muluk Thawaif bahkan Granada sebagai pertahanan Islam terakhir runtuh akibat konflik kekuasaan antar ahli waris
e.       Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrka Utara. Dengan demikian tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di sana.
5.      Pengaruh Peredaban Spanyol Islam di Eropa
Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengathuan Islam yang berkembang di periode klasik.
 Tokoh yang paling banyak memberikan warna dalam pemikiran pemuda-pemuda Kristen Eropa adalah Ibnu Rusd, Pengaruh ilmu pengatahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad 12 M itu menimbulkan gerakan bangkit kembali (Renaisance) pusakan Yunani di Eropa pada abad 14 M.[24]
D.    ANALISIS
Banyak orientalis beranggapan bahwa Islam disebarluaskan dengan cara kekerasan/peperangan serta penindasan, sebagaimana yang dilakukan Tharif ibnu Malik, Thariq Bin Ziyad dan Musa Ibnu Nusair, akan tetapi jika lebih lanjut kita menganalisis perihal perluasan wilayah Islam dengan cara penaklukan, maka akan didapati bahwa tentara Islam  setelah melakukan penaklukan tidak mengadakan penjajahan terhadap penduduk pribumi meskipun mereka tidak mememeluk agama Islam, toleransi beragama ditegakkan dan menjunjung tingga Hak Asasi Manusia (HAM), penduduk non muslim diberikan kebebebasan untuk melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinannya, bahkan dalam stukur pemerintahan diberikan lembaga yang khusus menangnai keagamaan Kristen.
Sudah menjadi Sunatullah setiap kekuasaan yang diawali dengan penaklukan kemudian memperoleh kemenangan dan akhirnya berjaya, pasti akan mengalami keruntuhan, begitu pula dengan Islam yang pernah berkuasa selama kurang lebih tujuh setengah abad harus musnah dari bumi Spanyol yang disebabkan oleh kebangkitan orang kristen dan perselisihan perebutan kekuasaan.
Imperium Umayyah di Spanyol menggunakan istilah amir dan Khalifah untuk menyebut penguasanya. Istilah Khlaifah pada awalnya merupakan gelar untuk pemimpin umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw yang mempunyai arti ”Pengganti” atau ”Perwakilan”. Dalam perkembangannya Umayyah menggunakan istilah Khalifah untuk menyebut kekuasaanya Khalifah yang diangkat berdasarkan taqdir Allah.
Jika kita bandingkan antara sistem kerajaan, khilafah dengan Republik maka dapat kita uraikan bahwa, Dalam kedudukan monarki, kedudukan raja diperoleh dengan warisan. Artinya, seseorang dapat menduduki jabatan raja hanya karena ia anak raja. Jabatan khalifah didapatkan dengan baiat dari umat secara ikhlas dan diliputi kebebasan memilih, tanpa paksaan. Jika dalam sistem monarki raja memiliki hak istimewa yang di khususkan bagi raja, bahkan sering raja di atas UU, maka seorang khalifah tak memiliki hak istimewa ; mereka sama dengan rakyatnya. Khalifah ialah wakil umat dalam pemerintahan dan kekuasaan yang dibaiat buat menerapkan syariat Allah SWT atas meraka. Artinya khalifah tetap tunduk dan terikat pada hukum Islam dalam semua tindakan, kebijakan, dan pelayanan terhadap kepentingan rakyat.
Dalam sistem republik, presiden bertanggung jawab kepada rakyat atau yang mewakili suaranya (misal : parlemen). Rakyat beserta wakilnya berhak memberhentikan presiden. Sebaliknya seorang khalifah, walau bertanggung jawab pada umat dan wakilnya, mereka tak berhak memberhentikannya. Khalifah hanya diberhentikan jika menyimpang dari hukum Islam, dan yang menentukan pemberhentiannya ialah mahkamah mazhalim. Jabatan presiden selalu dibatasi dengan periode tertentu. Batasannya, apakah ia masih melaksanakan hukum Islam atau tidak. Selama masih melaksanakannya, serta mampu menjalankan urusan dan tanggung jawab negara, maka ia tetap sah menjadi khalifah.  
 Dalam perkembangannya Umayyah ternyata menerapkan kekhilafahan yang seharusnya berdasarkan bait dari ummat diganti dengan Monarchi yang mewariskan kekuasaan secara turun temurun hal ini yang kemudian membuat umat setelah periode ini apatis terhadap Khalifah dan cenderung untuk mendukung pemerintah yang bercorak demokrasi.
Dalam perkembangan kebudayaan dunia khususnya Eropa maka Islam spanyol tidak bisa dilupakan sumbangsihnya melalui pemikir-pemikir Islamnya meskipun mayoritas orang eropa menolak anggapan ini, tetapi kita tidak boleh hanya tepaku pada kejayaan masa lalu tanpa berbuat apa-apa pada masa sekarang an yang akan datang.
E.     KESIMPULAN
Islam dapat memasuki wilayah Spanyol atas jasa Tharif, Thariq, dan Musa Ibnu Nusair serta Abdurrahman ad-dkhail. Perkembangan Islam di Spanyol dapat dibagi menjadi 6 periode mulai tahun 711 M -1492 M dengan kemajuan-kemajuan dibidang ilmu pengetahun, pemerintahan serta arsitektur, Islam mengalami kemunduran akibat konflik internal kerajaan meskipun Islam juga memberikan sumbangsih terhadap kemajuan dunia barat hingga saat ini















Daftar Pustaka

Armstrong, Karen, Islam A Short History, (Yogyakarta: Ikon Teraklitera, 2003)
Adeng Muchtar Ghazali, Perjalanan Politik Umat Islam, (Bandung:CV Pustaka Setia, 2004), 54
al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta : Akbar Media Eka Merdeka, 2003)
Madjid, Nur Cholis, Kaki Langit Peradaban Islam” (Jakarta: Paramadina, 1997)
Makalah, Sebab-Sebab Kehancuran Islam di Spanyol, (USU, Fak. Sastra, 2004)
Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik Perkembangan ilmu Pengetahuan Islam, (Jakrarta : Prenada Media, 2004)

Tim Penyusun Teks Book dirasat Islamiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Dirasat Islamiyyah Sejarah dan Pembaharuan Islam, (Surabaya : CV Anika Bahagia Offset, 1995)
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000)
http://www.haroqi-multiply.com/journal/item/139
http://www.archive.kaskus.us/thread/3450909/20
http://www. Kisah-Islam.co.cc/index.php?option
http://wwwdnopiyanti.blogspot.com/2010/05/
http://www.Wikipwdia.Com
http://www.republika.co.id/berita/dunia-Islam/khazanah/11/05/19/II26b
http://www.majalah-alkisah.com/index.php



[1] Tim Penyusun Teks Book dirasat Islamiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Dirasat Islamiyyah Sejarah dan Pembaharuan Islam, (Surabaya : CV Anika Bahagia Offset, 1995),99.
[2] Spanyol dulu dikenal dengan al-andalusia atau semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang sekarang termasuk selatan Perancis. . John L Esposito,  Oxford Dictionary of Islam, (Oxford unifersity: 2003) dalam Http//www.Wikipidea.Com
[3] Roderic adalah raja yang kejam dari Visigoth, ia memaksa rakyat untuk mengikuti alairan agama yang dianut penguasa, kebijakan kenomi yang diambil juga membuat keadaan ekonomi rakyat terpuruk yang mengakibatkan konflik anatara roderic dengan kerebat Witiza-oppas dan Achila. Sejarah Peradaban Islam di Andalusia dalam http//www.scribd.com/doc/33459796 (16 Oktober 2011)
[4] Pemerintahan bani Umayyah di Spanyol dalam http://www.refrensiagama.blogsopt.com/2011/01
[5] Nama lengkapanya adalah Thariq bin Ziyad bin Abdillah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathutfat bin Nafzau adalah putra suku Ash-Shadaf, Suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah yang ahli menunggang kuda, mahir menggunakan senjata serta menguasai bela diri. Sariono , Sejarah Para Khalifah, dalam http://www.republika.co.id/berita/dunia-Islam/khazanah/11/05/19/II26b
[6] Thariq Bin Ziyad  sang Penakluk dalam http://www.rijal.wordpress.com/2008/09/28/
[7] Islam di Andalusia menang atau syahid dalam http://www.majalah-alkisah.com/index.php
[8] http://www.Wikipwdia.Com
[9] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000), 94.
[10] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta : Akbar Media Eka Merdeka, 2003), 239.
[11] Adeng Muchtar Ghazali, Perjalanan Politik Umat Islam, (Bandung:CV Pustaka Setia, 2004), 54.
[12] Perkembangan Islam di Spanyol dalam http://wwwdnopiyanti.blogspot.com/2010/05/
[13] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik Perkembangan ilmu Pengetahuan Islam, (Jakrarta : Prenada Media, 2004), 123.
[14] K. Ali , Sejarah Islam (Tarikh PraModern), (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996), 34. dalam http://www. Kisah-Islam.co.cc/index.php?option
[15] Perkembangan Islam di Spanyol dalam http://wwwsyalvine.wordpress.com/2010/02/06
[16] Badri Yatim, Hal. 82-83
[17] Ibnu Rusd dilahirkan pada tahun 1126 M di Qurtubah cordova dari sebuah bangsawan terkemuka, ayahnya adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di Cordova. Ia adalah filosof yang berhasil mengintegrasikan Islam dengan tradisi pemikiran Yunani, selain ia seorang ahli filsafat dia juga dikenal ahli di bidang kedokteran dengan karya terbesarnya al-Kuliyat fil Tibb telah menjadi rujukan utama dalam bidang kedokteran. Dalam http;//www.archive.kaskus.us/thread/3450909/20
[18] Buku ini merupakan reaksi dari Ibnu Rusd terhadap karya Al-Ghazali yang menyesatkan pemikiran Filsafat. Nur Cholis Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam” (Jakarta: Paramadina, 1997), 5.
[19] Masjid ini luasnya 170 M dengan biaya 800.000 dinar, menara yang tingginya 40 Dziro’, kubahnya sebelah dalam terbuat dari kayu yang diukir indah, tinganya berjumlah 1.093 yang dihiasi denngan batu marmer sperti catur yang didalamnya terdapat ruangan yang lias dan panjang. Dalam http”//www.haroqi-multiply.com/journal/item/139
[20] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, 127.
[21] Makalah, Sebab-Sebab Kehancuran Islam di Spanyol, (USU, Fak. Sastra, 2004),3-5.
[22] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 427-428
[23] Karen Armstrong, Islam A Short History, (Yogyakarta: Ikon Teraklitera, 2003), 63.
[24] Ibid, 108-110.

PROBLEM DAN PARADIGMA BARU PENDIDIKAN


PROBLEMATIKA DAN PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL
Oleh Aan Minan Nur Rohman
A. Pendahuluan
Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, tengah memasuki dunia tanpa batas (borderless world) sebagai akibat perkembangan teknologi komunikasi, globalisasi komunikasi, dan kesepakatan-kesepakatan internasional.[1] Dampaknya Negara ini harus terbuka terhadap aktifitas social, ekonomi, budaya, dan komunikasi, sehingga menuntut tersedianya modal manusia berupa kecakapan hidup bemutu.
Berbagai temuan tentang rendahnya kualitas SDM Indonesia telah dikemukakan di berbagai forum maupun media massa. Baik mengenai Peringkat Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI) Indonesia,[2] khususnya pada peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala, makin lama makin menurun. tingginya angka putus sekolah, sistem pendidikan yang berubah-ubah.
Bertolak dari berbagai gambaran di atas, dapat dilihat bahwa ada permasalahan besar dan mendasar dengan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, yaitu rendahnya mutu sistem pembelajaran atau sistem pendidikan di sekolah. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengembangan sistem pendidikan nasional yang mampu mengatasi persoalan-persoalan tersebut.
Makalah sederhana ini berusaha menyampaikan tantangan dan permasalahan pendidikan di Indonesia beserta paradigma baru pendidikan nasional sebagai solusi alternatifnya.

B. Problematika Pendidikan di Indonesia
Pendidikan nasional tidak dapat dipisahkan dari usaha bangsa kita untuk membangun suatu masyarakat Indonesia baru dengan berdasarkan kebudayaan nasional. Berbagai krisis yang terjadi menunjukkan bahwa masih sangat banyak kepincangan dalam perubahan yang terjadi. Pendidikan Indonesia dewasa ini telah terlempar dari kebudayaan, dan telah menjadi alat dari suatu orde ekonomi, atau alat sekelompok penguasa untuk mewujudkan cita-citanya yang tidak selalu sesuai dengan tuntutan masyaraka
H A R Tilaar membagi tantangan pendidikan nasional menjadi dua kelompok besar, yaitu: (1) tantangan internal, dan (2) tantangan global. Tantangan internal meliputi masalah kesatuan bangsa, demokratisasi pendidikan, desentralisasi manajemen pendidikan, dan kualitas pendidikan. Sedangkan tantangan global meliputi: pendidikan yang kompetitif dan inovatif, dan identitas bangsa.[3]
1.        Tantangan Internal
a.       Kesatuan Bangsa
Berkaitan dengan masalah kesatuan bangsa, nilai-nilai kesatuan bangsa hanya dapat ditanamkan di dalam proses pendidikan, apabila peserta didik menghayati kesatuan antara apa yang mereka pelajari di sekolah, dengan apa yang diperbuat oleh para orang tua dan para pemimpin masyarakat. Rasa kesatuan bangsa berarti pula seseorang bangga menjadi bangsa Indonesia. Apabila suatu bangsa terpuruk bukan hanya dari segi ekonomi tetapi lebih lebih dari segi moral dan etika, maka tidak mungkin seseorang merasa bangga sebagai anggota suatu bangsa. Kebanggaan sebagai suatu bangsa merupakan suatu kebanggaan moral dan etis. Inilah masalah yang pertama dan utama di dalam pendidikan nasional dalam rangka membangun masyarakat Indonesia baru. Rasa bangga menjadi orang Indonesia berarti pula bangga dengan kebudayaan Indonesia.
b.      Demokratisasi pendidikan
Tantangan internal yang kedua, yaitu demokratisasi pendidikan. Kehidupan demokrasi adalah kehidupan yang menghargai akan potensi individu, yaitu individu yang berbeda dan individu yang mau hidup bersama. Dengan demikian segala jenis homogenisasi masyarakat yaitu menyamaratakan anggota masyarakat menuju kepada uniformitas adalah bertentangan dengan prinsip-prinsip hidup demokrasi. Termasuk di dalamnya pengakuan terhadap hak asasi manusia merupakan inti dari kehidupan demokrasi di segala aspek kehidupan. Begitu juga dalam bidang pendidikan, semua warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang baik, juga memiliki kewajiban yang sama untuk membangun pendidikan nasional yang bermutu.[4]  Demokrasi bukan hanya masalah prosedur atau susunan pemerintahan, tetapi terutama adalah merupakan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai yang mengakui akan kehormatan atau martabat manusia (human dignity). Oleh sebab itu, proses pendidikan nasional dapat dirumuskan sebagai proses hominisasi dan proses humanisasi. Pendidikan tidak hanya sekedar menghidupi peserta didik, tetapi juga mengembangkannya sebagai manusia (human being), atau  pendidikan yang memanusiakan.[5]
c.       Desentralisasi Manajemen pendidikan
Desentralisasi penyelenggaraan pendidikan dan kebudayaan di daerah akan berimplikasi langsung di dalam penyusunan dan penentuan kurikulum yang saat ini masih sentralistis dan memberatkan peserta didik. Desentralisasi pendidikan dan kebudayaan meminta artikulasi dalam semua jenis pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi diarahkan kepada kebutuhan perkembangan sumber-sumber alam dan sumber-sumber manusia yang terdapat di daerah. Dengan demikian, masalah akuntabilitas pendidikan yang selama ini telah mengasingkan pendidikan dari kehidupan masyarakat akan dapat diatasi. Community-based education atau school-based education merupakan wujud nyata dari demokratisasi dan desentralisasi pendidikan. Dalam kaitan ini, pendiidkan yang diinginkan adalah pendidikan pemberdayaan, yaitu pendidikan yang bertujuan memberdayakan setiap anggota masyarakat untuk dapat berprestasi setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuan yang telah dikembangkan di dalam dirinya sendiri
d.      Kualitas pendidikan
Terkait dengan masalah kualitas pendidikan, dari berbagai unsure penyelenggaraan pendidikan, dapat dilihat betapa sulitnya peningkatan kualitas pendidikan dengan sarana yang terbatas, dana pendidikan yang minim, penghargaan kepada profesi guru yang sangat rendah, dan terbatasnya berbagai sarana penunjang pendidikan lainnya.
Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu syarat mutlak untuk mempercepat terwujudnya suatu masyarakat yang demokratis. Dalam kaitan ini perlu digarisbawahi bahwa pendidikan yang berkualitas bukan hanya pendidikan yang mengembangkan intelegensi akademik, namun perlu mengembangkan seluruh spektrum intelegensi manusia yang meliputi berbagai aspek kebudayaan. Pendidikan formal bukan hanya mengembangkan intelegensi skolastik tetapi juga intelegensi emosional, spasial, interpersonal, intrapersonal, dan seterusnya. Sistem pendidikan nasional haruslah memberikan kesempatan untuk perkembangan spektrum intelegensi yang luas tersebut.
2.        Tantangan Global
a.       Pendidikan yang kompetitif dan inovatif[6]
Selanjutnya yang terkait dengan tantangan global yang pertama adalah pendidikan yang kompetitif dan inovatif. Pendidikan dalam millenium ketiga adalah adalah pendidikan yang mengembangkan sikap inovatif. Hal ini sejalan dengan kehidupan demokrasi yang memerlukan anggota-anggota yang bukan merupakan robot, tetapi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif. Hanya dengan sikap demikian, suatu masyarakat demokrasi akan semakin lama semakin maju dan semakin meningkat kualitasnya. Masyarakat dan individu yang kompetitif serta dapat bekerja sama , didorong oleh sikap inovatif merupakan paradigma baru dari berbagai negara di dunia. Hal ini sangat ditekankan di dalam sistem pendidikan, lebih-lebih di dalam menghadapi kehidupan global dengan pasar bebasnya yang kompetitif. Suatu sistem pendidikan dapat saja menghasilkan tenaga-tenaga pemikir yang berkembang, namun apabila tidak inovatif maka kemampuan berpikirnya tidak akan bermanfaat dalam kehidupan bersama. Di masa depan, hanya bangsa yang inovatif yang mempunyai daya saing besar yang dapat menguasai kehidupan dunia.
b.      Identitas bangsa
Masalah kedua yang terkait dengan tantangan global adalah identitas bangsa. Kehidupan global akan melahirkan kebudayaan global. Dewasa ini dapat dilihat betapa kebudayaan global telah mulai melanda kehidupan global yang tanpa batas. Di satu pihak, budaya global dapat membuka cakrawala pemikiran anggota masyarakat, namun juga kemungkinan masuknya unsur-unsur kebudayaan global yang negatif akan dapat meracuni kehidupan generasi muda. Oleh sebab itu, semakin penting adanya suatu kesadaran akan identitas sebagai suatu bangsa. Identitas suatu bangsa merupakan tumpuan yang kuat bukan hanya bagi perkembangan pribadinya, namun juga sebagai benteng pertahanan yang melindungi pengaruh-pengaruh negatif dari kebudayaan global. Tugas pendidikan nasional adalah mengembangkan identitas peserta didik agar dia bangga menjadi bangsa Indonesia yang dengan penuh percaya diri memasuki kehidupan global sebagai seorang Indonesia yang berbudaya. Pendidikan bukan hanya bertujuan menghasilkan manusia yang pintar yang terdidik, tetapi yang lebih penting adalah manusia yang terdidik dan berbudaya (educated and civilited human being).
Demikianlah tantangan dan permasalahan pendidikan di Indonesia, yang bukan merupakan hal mudah untuk diatasi. Sebagaimana perubahan suatu kebudayaan, maka dituntut kerja keras, perencanaan yang matang, pengerahan sumber-sumber untuk menunjang pelaksanaan. Lebih-lebih dalam masyarakat Indonesia—yang masih dalam masa transisi dan harus belajar hidup demokarsi yang sesungguhnya—maka tugas nasional ini memerlukan suatu komitmen politik. Komitmen politik berarti adanya suatu keterikatan moral dari seluruh anggota masyarakat dalam rancangan-rancangan kehidupan bersamanya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia baru melalui sistem pendidikan nasional.
Selanjutnya menurut H A R Tilaar ada  Empat Indikator perkembangan sistem pendidikan yaitu; 1) popularisasi pendidikan 2) sistematisasi pendidikan 3) proliferasi pendidikan, dan 4) politisasi pendidikan.[7]
a.       Popularisasi Pendidikan
Pada jaman kolonial pendidikan hanyalah hak dari sekelompok kecil masyarakat, sedangkan masyarakat luas boleh dikatakan mendapatkan pendidikan yang sangat terbatas dan diskriminatif atau diserahkan kepada praktek pendidikan tradisional tanpa bantuan dari pemerintah, bahkan dikucilkan. Namun dengan proklamasi kemerdekaan 17 agustus  1945, pendidikan telah dianggap sebagai hak semua orang. Hasilnya adalah lahirlah gerakan “more eduction” atau dikenal sebagai (education explosion). Selanjutnya  lahirlah apa yang disebut teori pemberantasan kemiskinan melalui pemutusan lingkaran setan yang menyebabkan kemiskinan absolute. Salah satu faktornya ialah rendahnya pendidikan.
Memang benar tingkat pendidikan yang rendah tidak dapat membawa manusia kepada kehidupan yang layak, maka lahirlah education for all yaitu pendidikan telah merupakan suatu kebutuhan pokok (basic needs) di dalam kehidupan manusia. Di dorong oleh perinsip ini maka maraklah antara lain program-program wajib belajar. Indonesia melaksanakan wajib belajar sekolah dasar 6 tahun yang telah dicapai pada tahun 1984 dengan penghargaan Aviciena dari UNISCO kepada presiden republik Indonesia. Kesuksesan wajib belajar 6 tahun dilanjutkan dengan pelaksanaan wajib belajar 9 tahun.
b.      Sistematisasi pendidikan
Untuk meningkatkan mutu dan standar pendidikan nasional maka diadakanlah berbagai usaha dan peraturan untuk menyeragamkan pendidikan nasional. Berdasar dari asumsi-asumsi efisiensi dan keseragaman maka pendidikan nasional diusahakan diatur melalui undang-undang  positif serta berbagai peraturan yang menjamin uniformitas suatu sistem. Demikianlah kita mulai mengenal norma-norma nasional yang dicapai melalui ujian nasional seperti EBTANAS dan UMPTN. Berbagai cara dilaksanakan dengan menerapkan prinsip TQM (Total Quality Management) di dalam bidang pendidikan untuk mencapai mutu pendidikan yang dicita-citakan. Berbagai tes-tes standar dikembangkan untuk menyeragamkan mutu pendidikan diseluruh negeri.
c.       Proliferasi pendidikan[8].
Ketika memproklamirkan kemerdekaan, pendidikan boleh dikatakan sebagian besar diartikan sebagai pendidikan di sekolah. Pada tahun 1950 pendidikan formal juga menganndung arti pendidikan untuk masyarakat.
Tampak di dalam UU No. 4 Tahun 1950 yang terutama diarahkan kepada pendidikan disekolah atau dengan kata lain yang berkaitan dengan pengajaran. Di dalam perkembangan masyarakat kita, ditambah pula dengan kemajuan tegnologi, maka pengertian dan lingkupan pendidikan menjadi lebih luas lagi dengan munculnya berbagai sarana prasarana pendidikan yang dulunya tidak dikenal oleh masyarakat.
Sehingga kita mengenal pendidikan maya (virtual education) yang menggelobal. Dengan demikian terjadi proleferasi yang sangat cepat baik di dalam pendidikan formal, non formal, maupun informal. Multifikasi dari jenis dan sumber pendidikan telah memberikan banyak masalah yang dulu tidak dikenal di dalam managemen pendidikan. Sejalan dengan proliferensi pendidikan maka tanggung jawab pendidikan tampaknya lama-kelamaan bergeser dari pendidikan keluarga ke lingkungan di luar keluarga bahkan diluar gedung sekolah.
d.      Politisasi pendidikan
Antara pendidikan dan politik terdapat kaitan yang sangat erat. Keduanya pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Keduanya mempunyai titik ringgung yang sama ialah pertanyaan mengenai tujuan hidup manusia dan masyarakat.[9]
Keduanya menginginkan adanya kehidupan yang berbahagia. Keduanya juga diarahkan bagaimana mencipta pribadi dan masyarakat, yang membentuk kehidupan bersama, dapat menciptakan kehidupan yang bahagia, namun demikian di dalam sejarah perkembangan lahirnya Negara-negara, peranan pendidikan di dalam kehidupan politik sebenarnya tidak begitu besar. Meskipun diakui bahwa tanpa pedidikan, kehidupan bersama yang berbahagia di dalam suatu negara tidak dapat diciptakan. Oleh sebab itu dapat dimengerti mengapa politik (partai politik) memperebutkan pendidikan sebagai sarana untuk melanggengkan kehidupan politiknya. Melalui proses pendidikan dapat dialihkan pemikiran-pemikiran, ide-ide, dan cara-cara untuk mewujudkan kehidupan bersama yang berbahagia. Dengan demikian mudah dimengerti mengapa terjadi proses politisasi terhadap pendidikan nasional.
C. Paradigma Baru Pendidikan Nasional
Berdasarkan uraian mengenai refleksi sejarah pendidikan di Indonesia, permasalahan-permasalahan pendidikan, dan dengan mempelajari contoh sukses sistem pendidikan di Jepang dan Cina, selanjutnya dirumuskan paradigma baru pendidikan di Indonesia.[10]
Selanjutnya belajar dari kesuksesan negara Jepang dan China dalam pembangunan pendidikannya, beberapa hal yang perlu dicatat adalah: (1) adanya komitmen pemerintah, ditunjang dengan penyediaan dana pendidikan yang memadai, sarana penunjang pendidikan yang layak, serta hukum dan peraturan yang menjamin kepentingan pengembangan pendidikan (2) adanya keterlibatan masyarakat dan pihak industri serta pemangku kepentingan yang lainnya (stake holders) untuk bersama-sama memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan pendidikan, (3) pendidikan yang tidak sentralistis, (3) kurikulum pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta metode pembelajaran yang kompetitif dan inovatif, dan (4) kecintaan pada ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah membudaya dalam masyarakat, termasuk peserta didik di semua jenjang dan jalur pendidikan.
Bertitik tolak dari uraian di atas, maka paradigma pendidikan perlu diredefinisikan. Rumusan paradigma baru tersebut diharapkan mampu memberikan arah yang benar, sesuai denga peran pendidikan nasional yang secara makro dituntut untuk membantu mengantarkan masyarakat Indonesia menuju masyarakat Indonesia baru, yang dinamakan masyarakat madani (civil society), yakni masyarakat yang demokratis, religius, dan tangguh menghadapi lingkungan global yang kompetitif.
Peran pendidikan seharusnya dipahami bukan saja dalam konteks mikro (kepentingan anak didik yang dilayani melalui proses interaksi pendidikan), namun juga dalam konteks makro, yaitu kepentingan masayarakat yang dalam hal ini termasuk masyarakat bangsa, negara dan masyarakat dunia. Hubungan pendidikan dengan masyarakat mencakup hubungan pendidikan dengan perubahan sosial, tatanan ekonomi, politik, dan negara. Oleh karena pendidikan terjadi di masyarakat, dengan sumber daya masyarakat, dan untuk masyarakat, maka pendidikan dituntut untuk mampu memperhitungkan dan melakukan antisipasi terhadap perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan kenegaraan secara silmultan. Di samping itu, secara mikro, pendidikan juga harus selalu memperhitungkan karakteristik perbedaan peserta didik. Dengan demikian, acuan pemikiran dalam penataan dan pengembangan sistem pendidikan nasional harus mampu mengakomodasikan berbagai pandangan secara selektif, sehingga terdapat keterpaduan dalam konsep.
Pertama, pendidikan adalah wahana pemberdayaan bangsa dengan mengutamakan penciptaan dan pemeliharaan komponen-komponen sumber pengaruh secara dinamik, misalnya keluarga, sekolah, media massa, dan dunia usaha. Selain itu, prinsip pemberdayaan masyarakat dengan segenap institusi sosial yang ada di dalamnya, terutama institusi yang dilekatkan dengan fungsi mendidik generasi penerus bangsa. Institusi pendidikan tradisional seperti pesantren, keluarga, dan berbagai wadah organisasi pemuda bukan hanya diberdayakan sehingga dapat mengembangkan fungsi pendidikan dengan lebih baik, tetapi juga diupayakan untuk menjadi bagian yang terpadu dalam pendidikan nasional. Berkaitan dengan hal tersebut, maka kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) dan Manajemen Berbasis Masyarakat Luas (Broad-Based Managemet)—sebagaimana yang telah disinggung di atasmerupakan kebijakan yang tepat dan seharusnya terus-menerus diupayakan dan direalisasikan.[11]
Kedua, pendidikan dituntut untuk cepat tanggap atas perubahan yang terjadi dan melakukan upaya yang tepat, serta secara normative sesuai dengan cita-cita masyarakatnya. Pendidikan harus progresif, tidak resisten terhadap perubahan, akan tetapi mampu mengendalikan arah perubahan itu, mampu mengantisipasi perubahan. Dengan demikian, diperlukan sumber daya pendidikan yang tangguh dan memadai. Dalam hal ini, fungsi institusi pendidikan dan pelatihan guru (seperti PPPG dan BPG) perlu lebih dioptimalkan peranannya sesuai dengan tugas dan fungsinya, agar mampu melakukan berbagai kegiatan peningkatan kualitas guru di semua jenjang dan jalur pendidikan, baik pre-service maupun in-service. Selain itu, dalam peningkatan mutu guru melalui pendidikan dalam-jabatan, penekanan diberikan kepada kemampuan guru agar dapat meningkatkan efektivitas mengajarnya, mengatasi persoalan-persoalan praktis dalam pembelajaran, dan meningkatkan kepekaan guru terhadap perbedaan individual siswa.
Ketiga, dalam kondisi masyarakat yang menghendaki perubahan mendasar, maka pendidikan harus mampu menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan oleh perubahan besar tersebut. Paham rekonstruksionis mengkritik pandangan pragmatis sebagai suatu pandangan yang cocok untuk kondisi yang relatif stabil. Pendekatan pragmatis bersifat lebih berorientasi masa kini, sedangkan pendekatan rekonstruksionis lebih berorientasi masa depan dengan tetap berpijak pada kondisi sekarang. Berkaitan dengan hal ini, kurikulum pendidikan harus berorientasi ke masa depan, serta memberikan keleluasaan kepada sekolah, guru, dan siswa, untuk mengoptimalkan potensi mereka; tidak sekedar dikejar target beban kurikulum sebagaimana yang selama ini terjadi. Selain itu, penerapan model-model pembelajaran yang bersifat student-centered perlu lebih ditekankan penerapannya, agar menghasilkan produk yang lebih mandiri, memiliki kebebasan berfikir, kritis, dan tangguh.
Keempat, pendidikan dengan prinsip global. Pendidikan harus mampu berperan dan menyiapkan peserta didik dalam konstelasi masyarakat global. Namun demikian, harus selalu diingat bahwa dalam pendidikan berwawasan global, pendidikan pada waktu yang bersamaan mempunyai kewajiban untuk melestarikan karakter nasional. Meskipun konsep nationstate sudah diragukan dan diganti dengan welfare state bahkan global state yang tidak lagi mengenal tapal batas (borderless) karena kemajuan teknologi informasi, pembinaan karakter nasional tetap relevan dan bahkan harus terus dilakukan. Jepang tetap merupakan satu contoh bangsa yang mengglobal dengan tanpa kehilangan karakternya sebagai suatu bangsa. Negara kebangsaan seharusnyalah Negara yang menyesuaikan kesejahteraan bagi warganya, dan di sinilah peran pendidikan sangat sentral.
Selanjutnya untuk memberikan solusi terhadap empat indikator perkembangan sistem pendidikan di Indonesia dapat diajukan hal-hal berikut ini :
1.      Popularisasi Pendidikan
Untuk memajukan popularisasi pendidikan, maka paradigmanya adalah (1) menyesuaikan model pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan rakyat banyak seraya meningkatkan mutunya, (2) meningkatkan partisipasi keluarga dan masya-rakat dalam penyelenggaraan, investasi, dan evaluasi pendidikan, (3) meningkatkan investasi pendidikan melalui sektor pemerintah. Implementasi paradigma ini adalah melalui program-program (1) mengembangkan dan mewujudkan pendidikan berkualitas, (2) menyelenggarakan pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang bermutu, (3) menciptakan SDM pendidikan yang profesional dengan penghargaan yang wajar, (4) menanggulangi putus sekolah akibat krisis melalui perbaikan organisasi pelaksanaan penyaluran bantuan, dan  (5) meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan lainnya, sehingga dapat memotivasi peningkatan kinerja mereka secara optimal. Peningkatan kinerja guru dan tenaga kependidikan lainnya tersebut juga harus diberikan peluang melalui praktek-praktek penyegaran akademik, seperti penataran, kursus singkat, studi banding, dan kunjungan singkat dalam dan luar negeri.[12]
2.      Sistemasi Pendidikan
Pendidikan Indonesia diharapkan juga memusatkan perhatian pada upaya peningkatan sistematisasi pendidikan. Paradigmanya adalah (1) menitikberatkan pengembangan dan pemantapan sistem pendidikan nasional pada pemberdayaan lembaga pendidikan dengan memberi otonomi yang luas, (2) mengembangkan sistem pendidikan nasional yang terbuka bagi segenap dipersivitas yang ada di Indonesia, (3) pembatasan program-program pendidikan nasional difokuskan pada pengembangan kesatuan bangsa. Implementasi paradigma tersebut dapat dilakukan melalui program-program (1) menyiapkan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan di daerah, (2) mengurangi birokrasi penyelenggaraan pendidikan dan secara berangsur-angsur memberikan otonomi seluas-luasnya pada lembaga pendidikan, (3) melaksanakan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional secara bertahap seiring dengan persiapan sarana, SDM, dan dana yang memadai, baik tingkat provinsi maupun kabupaten.
3.      Proliferasi Pendidikan
Proliferasi sistem delivery pendidikan sangat menentukan kualitas pendidikan dalam dunia semakin terbuka sekarang ini. Untuk meningkatkan proliferasi pendidikan tersebut, paradigmanya adalah (1) meningkatkan keterpaduan dalam pengembangan dan implementasi program pelatihan, media massa, dan media elektronika, (2) menjembatani dunia pendidikan dan dunia kerja secara optimal dalam rangka menghasilkan tenaga-tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan pasar kerja. Impelementasi paradigma tersebut dapat dilakukan melalui program-program (1) optimalisasi pemanfaatan dan koordinasi lembaga-lembaga pelatihan di daerah dengan pelibatan pemimpin-pemimpin masyarakat, pemerintah daerah, dan dunia industri, (2) meningkatkan kuantitas dan kualitas lembaga-lembaga pendidkan di daerah dalam rangka menahan arus urbanisasi rekaligus meningkatkan SDM yang berkualitas, (3) menjalin kerjasama yang erat antara lembaga pelatihan dengan dunia kerja.
4.      Politisasi Pendidikan
Pendidikan dan politik memiliki hubungan yang sangat erat. Oleh sebab itu, politisasi pendidikan hendaknya dirumuskan sedemikian rupa, sehingga baik pendidikan maupun politik secara bersinergi dapat mencapai tujuan dalam meningkatkan peradaban manusia. Paradigmanya adalah (1) pendidikan nasional ikut serta dalam mendidik manusia Indonesia sebagai insan politik yang demokratis, sadar akan hak-hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang bertanggung jawab, (2) masyarakat, termasuk keluarga bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan. Secara operasional, paradigma ini dapat diimplementasikan melalui program-program (1) menerapkan sistem merit dan profesionalisme dalam rangka membersihkan birokrasi departemen dari kepentingan-kepentingan politik, (2) menegakkan disiplin serta tanggung jawab para pelaksana lembaga-lembaga pendidikan, (3) menyelenggarakan pendidikan budi pekerti.
D. Kesimpulan
1.      Kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara di dunia
2.      Tantangan internal pendidikan di Inonesia menurut H A R Tilaar meliputi, kesatuan bangsa, demokratisasi, desentralisasi dan kualitas penddikan.
3.      Tantangan global pendidikan nasional meliputi, pendidikan yang kompetitif dan novatif, serta identitas kebangsaan.
4.      Paradigma baru pendidikan nasional menurut H A R Tilaar meliputi, popularisasi pendidikan, sistemasi pendidikan, Proliferasi pendidikan dan Politisasi pendidikan



DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Muzayyin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011

Riyadi, Ali , Politik Pendidikan, Jogjakarta: Ar-Ruz, 2006

Tilaar, H A R pada, Mengurai Benang Kusut Pendidikan, Gagasan Para Pakar Pendidikan, Jakarta : Transformasi UJN, 2003

Tilaar, H A R, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010

Tilaar, H A R, Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999

Tilaar, H A R, Manifesto Pendidikan Nasional, Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural, Jakarta : Kompas, 2005




[1] Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011), 10.
[2] H A R Tilaar pada, Mengurai Benang Kusut Pendidikan, Gagasan Para Pakar Pendidikan, (Jakarta : Transformasi UJN, 2003), 41.
[3] H A R Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), 10
[4] H A R Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999), 3.
[5] H A R Tilaar, Manifesto Pendidikan Nasional, Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural, (Jakarta : Kompas, 2005), 110.
[6] Ibid H A R Tilaar, 15
[7] H.A.R. Tilaar.. hal  64
[8] proliferasi dalam http://id.w3dictionary.org diartikan  n. pertumbuhan, meningkatkan, burgeoning atau bourgeoning, perluasan, menyebar, eskalasi, build-up, bangkit
[9] Sebagaimana dikatakan Ali Riyadi, Politik Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruz, 2006), 5.
[10] Paradigma dalam bahasa inggris adalah paradigm yang berarti model. Pada www.degaabdullatif.blogspot.com, diakses pada 21 Sept 2012.
[11] Paradigma Baru Pendidikan Nasional, pada www.sayidimansuryohadiprojo.com, diakses pada 21 sept 2012
[12] Paradigma Baru Pendidikan Nasional, pada www.dwi-rohadi.blogspot.com  diakses ada 21 sept 2012