Minggu, 30 Desember 2012

BIOGRAFI IMAM AL-NASA’I



BIOGRAFI IMAM AL-NASA’I  (215-303 H)
( Oleh A’an Minan Nur Rohman )
Abstraksi
Al-Nasa’i mempunyai nama lengkap Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-khurasani al-Qadi. Lahir di daerah Nasa’ pada tahun 215 H. An-Nasa’i merupakan seorang laki-laki yang tampan, berwajah bersih dan segar, wajahnya seakan-akan lampu yang menyala, beliau adalah sosok yang karismatik dan tenang, berpenampilan yang sangat menarik.
Pada awalnya, beliau tumbuh dan berkembang di daerah Nasa’. Beliau berhasil menghafal al-Qur’an di Madrasah yang ada di desa kelahirannya. Beliau juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu keagamaan dari para ulama di daerahnya. Belum genap usia 15 tahun, beliau sudah melakukan mengembar ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya.
Diantara guru-gurunya antara lain; Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abi Dawud), serta Imam Abu Isa al-Tirmidzi (penyusun al-Jami’/Sunan al-Tirmidzi).Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramah beliau, antara lain; Abu al-Qasim al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu’jam), Abu Ja’far al-Thahawi, al-Hasan bin al-Khadir al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby, dan Abu Bakrbin Ahmad al-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat sebagai “penyambung lidah” Imam al-Nasa’i dalam meriwayatkan kitab Sunan al-Nasa’i.
Karangan-karangan beliau yang sampai kepada kita dan telah diabadikan oleh pena sejarah antara lain; al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra (kitab ini merupakan bentuk perampingan dari kitab al-Sunan al-Kubra), al-Khashais
Ibn al-Jauzy pengarang kitab al Maudhuat (hadis-hadis palsu), mengatakan bahwa hadis-hadis yang ada di dalam kitab al-Sunan al-Sughra tidak semuanya berkualitas shahih, namun ada yang maudhu’ (palsu). Ibn al-Jauzy menemukan sepuluh hadis maudhu’ di dalamnya, sehingga memunculkan kritik tajam terhadap kredibilitas al-Sunan al-Sughra. Kritikan pedas Ibn al-Jauzy terhadap keautentikan karya monumental Imam al-Nasa’i ini, nampaknya mendapatkan bantahan yang cukup keras pula dari pakar hadis abad ke-9, yakni Imam Jalal al-Din al-Suyuti, dalam Sunan al-Nasa’i, memang terdapat hadis yang shahih, hasan, dan dhaif. Hanya saja jumlahnya relatif sedikit.






I. PENDAHULUAN
Sebagai seorang mukmin kita berkewajiban menerima dan membenarkan semua ajaran Rosululloh Saw tanpa terkecuali, yang mana ajaran-ajaran tersebut disampaikan kepada sahabat-sahabat terdekat beliau yang disebut Khulafa al-Rasyidin.[1]
Generasi Khulafa al-Rasidin dianggap sebagai generasi yang paling dekat dengan Rosululloh, dari kedekatan ini  berimplikasi kepada keshahehan ajaran-ajaran yang datangnya dari Nabi. Generasi Tabi’in mendapatkan berita-berita dari para sahabat pertama dan disampaikan pula kepada generasi-generasi berikutnya hingga sampailah kepada seorang perawi.
Salah satu perawi yang terkenal adalah Imam an-Nasa’I, makalah sederhana ini berusaha memberikan informasi tentang kelahirannya, pengembaraan intelektualnya, karya-karyanya serta pendapat-pendapat ulama tentang beliau.
II. PEMBAHASAN
A.     Kelahiran dan Sifat-Sifatnya
                     Nama lengkapnya  adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-khurasani al-Qadi. Lahir di daerah Nasa’ pada tahun 215 H.[2] Beliau dinisbahkan kepada daerah Nasa’ (al-Nasa’i), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadis kaliber dunia yang berhasil menyusun sebuah kitab monumental dalam kajian hadis, yakni al-Mujtaba’ yang di kemudian hari kondang dengan sebutan Sunan al-Nasa’i[3]
                     An-Nasa’i merupakan seorang laki-laki yang tampan, berwajah bersih dan segar, wajahnya seakan-akan lampu yang menyala, beliau adalah sosok yang karismatik dan tenang, berpenampilan yang sangat menarik. Kondisi itu karena beberapa faktor, diantaranya karena beliau sangat memperhatikan keseimbangan dirinya dari segi makanan, pakaian dan kesenangan minum sari buah yang halal dan banyak makan ayam.
B.     Pengembaraan Intelectual
            Pada awalnya, beliau tumbuh dan berkembang di daerah Nasa’. Beliau berhasil menghafal al-Qur’an di Madrasah yang ada di desa kelahirannya. Beliau juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu keagamaan dari para ulama di daerahnya. Saat remaja, seiring dengan peningkatan kapasitas intelektualnya, beliaupun mulai gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai penjuru dunia. Apalagi kalau bukan untuk guna memburu ilmu-ilmu keagamaan, terutama disiplin hadis dan ilmu Hadis.
         Belum genap usia 15 tahun, beliau sudah melakukan mengembar ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual yang demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan hal yang aneh dikalangan para Imam Hadis. Semua imam hadis, terutama enam imam hadis, yang biografinya banyak kita ketahui, sudah gemar melakukan perlawatan ilmiah ke berbagai wilayah Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan ciri khas ulama-ulama hadis, termasuk Imam al-Nasa’i.
         Kemampuan intelektual Imam al-Nasa’i menjadi kian matang dan berisi dalam masa pengembaraannya. Namun demikian, awal proses pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena justru di daerah inilah, beliau mengalami proses pembentukan intelektual, sementara masa pengembaraannya dinilai sebagai proses pematangan dan perluasan pengetahuan.
C.     Guru dan Murid-Muridnya
            Seperti para pendahulunya: Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam al-Tirmidzi, Imam al-Nasa’i juga tercatat mempunyai banyak pengajar dan murid.
         Para guru beliau yang nama harumnya tercatat oleh pena sejarah antara lain; Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abi Dawud), serta Imam Abu Isa al-Tirmidzi (penyusun al-Jami’/Sunan al-Tirmidzi).[4]
         Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramah beliau, antara lain; Abu al-Qasim al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu’jam), Abu Ja’far al-Thahawi, al-Hasan bin al-Khadir al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby, dan Abu Bakrbin Ahmad al-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat sebagai “penyambung lidah” Imam al-Nasa’i dalam meriwayatkan kitab Sunan al-Nasa’i.[5]
        
D.    Karya-Karyanya
            Sudah mafhum dikalangan peminat kajian hadis dan ilmu hadis, para imam hadis merupakan sosok yang memiliki ketekunan dan keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah, para imam hadis kerap kali menghasilkan karya tulis yang tak terhingga nilainya.
         Tidak ketinggalan pula Imam al-Nasa’i. Karangan-karangan beliau yang sampai kepada kita dan telah diabadikan oleh pena sejarah antara lain; al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra (kitab ini merupakan bentuk perampingan dari kitab al-Sunan al-Kubra), al-Khashais, Fadhail al-Shahabah, dan al-Manasik. Menurut sebuah keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn al-Atsir al-Jazairi dalam kitabnya Jami al-Ushul, kitab ini disusun berdasarkan pandangan-pandangan fiqh mazhab Syafi’i [6]
         Untuk pertama kali, sebelum disebut dengan Sunan al-Nasa’i, kitab ini dikenal dengan al-Sunan al-Kubra. Setelah tuntas menulis kitab ini, beliau kemudian menghadiahkan kitab ini kepada Amir Ramlah (Walikota Ramlah) sebagai tanda penghormatan. Amir kemudian bertanya kepada al-Nasa’i, “Apakah kitab ini seluruhnya berisi hadis shahih?” Beliau menjawab dengan kejujuran, “Ada yang shahih, hasan, dan adapula yang hampir serupa dengannya”.
         Kemudian Amir berkata kembali, “Kalau demikian halnya, maka pisahkanlah hadis yang shahih-shahih saja”. Atas permintaan Amir ini, beliau kemudian menyeleksi dengan ketat semua hadis yang telah tertuang dalam kitab al-Sunan al-Kubra. Dan akhirnya beliau berhasil melakukan perampingan terhadap al-Sunan al-Kubra, sehingga menjadi al-Sunan al-Sughra. Dari segi penamaan saja, sudah bisa dinilai bahwa kitab yang kedua merupakan bentuk perampingan dari kitab yang pertama.
         Imam al-Nasa’i sangat teliti dalam menyeleksi hadis-hadis yang termuat dalam kitab pertama. Oleh karenanya, banyak ulama berkomentar “Kedudukan kitab al-Sunan al-Sughra dibawah derajat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Di dua kitab terakhir, sedikit sekali hadis dhaif yang terdapat di dalamnya”. Nah, karena hadis-hadis yang termuat di dalam kitab kedua (al-Sunan al-Sughra) merupakan hadis-hadis pilihan yang telah diseleksi dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan al-Mujtaba. Pengertian al-Mujtaba bersinonim dengan al-Maukhtar (yang terpilih), karena memang kitab ini berisi hadis-hadis pilihan, hadis-hadis hasil seleksi dari kitab al-Sunan al-Kubra.
         Disamping al-Mujtaba, dalam salah satu riwayat, kitab ini juga dinamakan dengan al-Mujtana. Pada masanya, kitab ini terkenal dengan sebutan al-Mujtaba, sehingga nama al-Sunan al-Sughra seperti tenggelam ditelan keharuman nama al-Mujtaba. Dari al-Mujtaba inilah kemudian kitab ini kondang dengan sebutan Sunan al-Nasa’i, sebagaimana kita kenal sekarang. Dan nampaknya untuk selanjutnya, kitab ini tidak akan mengalami perubahan nama seperti yang terjadi sebelumnya.[7]
E.     Komentar para Ulama’
a.      Kritik Ibn al-Jauzy
            Kita perlu menilai jawaban Imam al-Nasa’i terhadap pertanyaan Amir Ramlah secara kritis, dimana beliau mengatakan dengan sejujurnya bahwa hadis-hadis yang tertuang dalam kitabnya tidak semuanya shahih, tapi adapula yang hasan, dan ada pula yang menyerupainya. Beliau tidak mengatakan bahwa didalamnya terdapat hadis dhaif (lemah) atau maudhu (palsu). Ini artinya beliau tidak pernah memasukkan sebuah hadispun yang dinilai sebagai hadis dhaif atau maudhu’, minimal menurut pandangan beliau.[8]
            Apabila setelah hadis-hadis yang ada di dalam kitab pertama diseleksi dengan teliti, sesuai permintaan Amir Ramlah supaya beliau hanya menuliskan hadis yang berkualitas shahih semata. Dari sini bisa diambil kesimpulan, apabila hadis hasan saja tidak dimasukkan kedalam kitabnya, hadis yang berkualitas dhaif dan maudhu’ tentu lebih tidak berhak untuk disandingkan dengan hadis-hadis shahih.
            Namun demikian, Ibn al-Jauzy pengarang kitab al Maudhuat (hadis-hadis palsu), mengatakan bahwa hadis-hadis yang ada di dalam kitab al-Sunan al-Sughra tidak semuanya berkualitas shahih, namun ada yang maudhu’ (palsu). Ibn al-Jauzy menemukan sepuluh hadis maudhu’ di dalamnya, sehingga memunculkan kritik tajam terhadap kredibilitas al-Sunan al-Sughra. Seperti yang telah disinggung dimuka, hadis itu semua shahih menurut Imam al-Nasa’i. Adapun orang belakangan menilai hadis tersebut ada yang maudhu’, itu merupakan pandangan subyektivitas penilai. Dan masing-masing orang mempunyai kaidah-kaidah mandiri dalam menilai kualitas sebuah hadis. Demikian pula kaidah yang ditawarkan Imam al-Nasa’i dalam menilai keshahihan sebuah hadis, nampaknya berbeda dengan kaidah yang diterapkan oleh Ibn al-Jauzy. Sehingga dari sini akan memunculkan pandangan yang berbeda, dan itu sesuatu yang wajar terjadi. Sudut pandang yang berbeda akan menimbulkan kesimpulan yang berbeda pula.[9]
            Kritikan pedas Ibn al-Jauzy terhadap keautentikan karya monumental Imam al-Nasa’i ini, nampaknya mendapatkan bantahan yang cukup keras pula dari pakar hadis abad ke-9, yakni Imam Jalal al-Din al-Suyuti, dalam Sunan al-Nasa’i, memang terdapat hadis yang shahih, hasan, dan dhaif. Hanya saja jumlahnya relatif sedikit. Imam al-Suyuti tidak sampai menghasilkan kesimpulan bahwa ada hadis maudhu’ yang termuat dalam Sunan al-Nasa’i, sebagaimana kesimpulan yang dimunculkan oleh Imam Ibn al-Jauzy. Adapun pendapat ulama yang mengatakan bahwah hadis yang ada di dalam kitab Sunan al-Nasa’i semuanya berkualitas shahih, ini merupakan pandangan yang menurut Muhammad Abu Syahbah_tidak didukung oleh penelitian mendalam dan jeli. Kecuali maksud pernyataan itu bahwa mayoritas (sebagian besar) isi kitab Sunan al-Nasa’i berkualitas shahih.
b.      Komentar Ulama’
1.      Abu ‘Ali An-Naisaburi menuturkan : “ belaiau adalah tergolong dari kalangan imam kaum muslimin”. Sekali waktu dia menuturkan beliau adalah imam dalam bidang hadits dengan tidak ada pertentangan “
2.      Abu Bakr al-Haddad as-syafi’i menuturlan : “aku ridlo dia sebagai hujjah antara aku dengan Allah ta’ala “
3.      Manshur bin Isma’il dan Ath-Thahawi menuturkan : “beliau adalah salah satu imam kaum muslimin”
4.      Abu Sa’aid bin Yunus menuturkan :”beliau adalah seorang imam dalam hadits, tsiqah, tsabat dan hafidz”
5.      Al-Qosim al-Muththarriz menuturkan : “beliau adalah seorang imam atau berhak mendapat gelar imam”
6.      Ad-daruqutni menuturkan :”Abu abdirrahman lebih mendahulukan dari semua orang yang disebutkan dalam disiplin ilmu pada masanya “
7.      Ibnu Nuqthoh menuturkan : “beliau adalah seorang imam dalam disiplin ilmu ini “
8.      Al-Mizzi menuturkan : “beliau adalah seorang imam yang menonjol dari kalangan para hafidz dan para tokoh yang terkenal “[10]
F.      Contoh Hadits Imam Al-Nasa’i
اَخْبَرَنَاحُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الاَعْلَى عَنْ يَزِيْدَ وَهُوَ ابْنُ زُرَيْعِ قَالَ : حَدَّثَ نِيْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ اَبِى عَتِيْقِ قَالَ : حَدَثَنِيْ اَبِي قَالَ: سَمِعْتُ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيْ ص م قَالَ : السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ][11]

Artinya : Nabi Muhammad bersabda Syiwak itu membersihkan mulut dan akan mendapatkan ridlo dari Allah Swt.
G.    Tutup Usia
         Setahun menjelang kemangkatannya, beliau pindah dari mesir ke Damsyik. Dan tampaknya tidak ada konsensus tentang tempat meninggal beliau. Al-daruqutni mengatakan beliau meninggal di Makkah dan dikebumikan diantara Shafa dan Marwah, pendapat senada juga disampaikan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-“Uqbi al-mashri.
      Sementara ulama lain seperti ad-Dzahabi menolak pendapat tersebut ia mengatakan Imam Al-Nasa’i meninggal di Ramlah (Palestina) pada hari Senin 13 Shafar tahun 303 H (915) , pendapat ini .didukung oleh Ibnu Yunus, Abu Ja’far al-Thahawi (Murid al-Nasa’i) dan Abu Bakar al-Naqatah.[12]

III. KESIMPULAN
1.      Nama lengkap Imam Al-Nasa’i adalah adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Sinan bin Bahr al-khurasani al-Qadi. Lahir di daerah Nasa’ pada tahun 215 H
2.      Imam Al-Nasa’i melakukan pengembaraan intelektual ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya untuk menambah khazanah keilmuannya dalam bidang hadits
3.      Diantara karya-karyanya yang terkenal adalah al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra al-Khashais, Fadhail al-Shahabah, dan al-Manasik.
4.      Banyak ulama yang mengomenterainya sebagai Imam Hadits seperti disampaikan oleh Abu ‘Ali An-Naisaburi, Abu Bakr al-Haddad as-syafi’i, Ad-daruqutni. Namun ada pula yang memberi kritikan seperti Al-Jauzu’i
5.      Imam Al-Nasa’i Meninggal dunia pada tahun 303 H atau bertepatan dengan tahun 915 M. Ada ulama yang mengatakan meninggal di Makkah adapula yang mengatakan di Ramlah (Palestina)







DAFTAR PUSTAKA
al-Maliki, Muhammad Alawi, Ilmu Ushul Hadis, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009)

al-Syuyuthi, Jalaluddin, Syarah Sunan al-Nasa’i, (Mesir : Dar al-Fikri, TT, Jilid I)
Baqi, Muhammad Fuad Abdul, Al-Lu’lu’ Wal Marjan Terjemah Salim Bahreisy (Surabaya: PT.Bina Ilmu, TT, Jilid II).
Rahman, Fatkhur, Ikhtishar Mushthalahul Hadits, (Bandung : PT Al-Ma’arif, 1987)
Suyadi,M. Solahudin, Agus, Ulumul Hadis , (Bandung : Pustaka Setia, 2009)
Biografi Ahlul Hadits, dalam Website www.Ahlulhadits.Wordprescom diakses pada 27 Desember 2011
Biografi Imam an-Nasa’i dalam http://www.nikmatberbagi.com diakses pada 27 Desember 2011
Biografi Imam an-Nasa’I dalam http://lidwa.com diakses pada tanggal 27 Desember 2011

Imam Nasa’  dalam http://id.wikipidea.org/ diakses pada 27 Desember 2011
















[1] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ Wal Marjan Terjemah Salim Bahreisy (Surabaya: PT.Bina Ilmu, TT), xxxiv.,
[2] Adapula ulama yang mengatakan Imam an-Nasa’I dilahirkan pada tahun 214 H. lihat  Biografi Imam an-Nasa’i dalam http://www.nikmatberbagi.com diakses pada 27 Desember 2011
[3] Fatkhur Rahman, Ikhtisar Mustholatul Hadits, (Bandung : PT Al-Ma’arif, 1987), 334
[4] Muhammad Alawi al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), 203.
[5] Ibid, 203.
[6] M. Solahudin, Agus Suyadi, Ulumul Hadis , (Bandung : Pustaka Setia, 2009), 237
[7] Ibid, 238.
[8] Imam Nasa’  dalam http://id.wikipidea.org/ diakses pada 27 Desember 2011
[9] M.Solahudin, Agus Suyadi, 237
[10] Biografi Imam an-Nasa’I dalam http://lidwa.com diakses pada tanggal 27 Desember 2011
[11] Jalaluddin al-Suyuthi, Syarah Sunan al-Nasa’I, (Mesir : Dar al-Fikri,TT,Jilid I), 28-29
[12] Biografi Ahlul Hadits, dalam Website www.Ahlulhadits.Wordprescom diakses pada 27 desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar